Selasa, 19 Mei 2009

BASHIRAH (Pandangan Mata Hati)


BASHIRAH (Pandangan Mata Hati)

Oleh : Ibnu Muslim Al Atsary



Artinya: Dan (Ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.(Al A’raaf: 164)

Ikhwah fillah…….

Rentan waktu yang begitu panjang, kabut-kabut peradaban yang menghalangi para rijalnya, kerikil-kerikil yang tajam , tanggung jawab peradaban adalah sekelumit hambatan-hambatan yang harus dilalui dalam mengarungi bahtera dakwah yang tak pernah berujung, akankah semua itu penghalang?

Wahai saudaraku , sambutlah panggilan Allah, serulah manusia ke ajalan kebenaran yang terhijab dalam kabut kegelapan , berilah manusia secercah cahaya melalui lisanmu, perbuatanmu, akhlaqmu. Ketahuilah para Nabi telah lebih dahulu menyambut panggilan dakwah ini. Wahai para Rijal dakwah berikan untuk Allah yang terbaik dari dirimu.

Artinya: Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka……… .(At Taubah:111)

Kehidupan yang penuh dengan perangkat-perangkat tipuan telah menipu pandangan bashirah manusia , bashirah adalah pandangan yang tajam dan mampu menembus kabut-kabut maksiat seperti yang dinyatakan oleh imam ibnul qayyim al jauzy. Seorang yang punya refleksi dakwah dapat memformulasikan keadaan yang begitu rumit dengan pandangan bashirahnya yang tajam, sebagaimana Nabi Nuh as diutus dalam keadaan yang memang rumit paham kebendaan yang dominan membuat mereka menuhankannya, Nabi Ibrahim as yang bermental budak berada ditengah tirani Namrudz la’natullah , begitu juga Nabi Musa as diutus di tengah kaum yang bermental budak dibawah tirani firaun la’natullah sampai kepada Nabi Muhammad risalah perbaikan peradaban terus berlanjut. Ke semua kondisi itu tidaklah seorang da’I peradaban berbekal melainkan berbekal bashirah yaitu pandangan hati. Adalah sebuah karya yang monumental yang monumental yang ditorehkan oleh para pendahulu kita dalam merangkai jalan dakwah ini, oleh sebab itu merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk meneruskan estafet proyek-proyek peradaban ini, seorang da’I yang sedia mewakafkan diri dan segala yang dimilikinya hanya untuk risalah ini adalah sebuah keniscayaan dalam rangka membangun dan merangkai kembali bingkai-bingkai peradaban yang telah hancur dalam keganasan zaman. Bashirah dalam konteks sekarang ini adalah menjadi suatu hal yang mesti ada pada setiap pribadi-pribadi da’I karena cahaya bashirah (mata hati) mampu menembus segala penghalang-penghalang sehingga seorang yang memiliki pandangan bashirah yang tajam dapat , melihat cahaya al haq dengan jelas orang seperti ini yang diisyaratkan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzy orang-orang yang hatinya bersih (qolb salim) mampu membedakan Al haq dan bathil , syubhat dengan kebenaran, pendek kata keistimewaan Allah SWT berikan kepada hamba-hambanya yang mempu berinteraksi dengan ayat-ayatnya baik yang tersurat maupun yang tersirat. Amirul Mukminin Utsman bin Affan telah membuktikan itu, ketika dihampiri oleh seorang shahabat lalu seraya berkata “ wahai saudaraku.. sesungguhnya aku melihat bekas zina di matamu” ternyata memang benar shahabat tadi telah melakukan zina mata dengan melihat kepada sesuatu yang bukan haqnya. Sungguh benar memang apa yang telah disabdakan Nabi SAW walaupun sebagian Ulama Hadits mengatakan Hadits ini asing (Gharib).

عن أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه قال . قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله (رواه الترمذى)

Artinya: dari Abu sa’id al khudry ra berkata . bersabda Nabi SAW : takutilah olehmu firasat mukmin karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah SWT .(HR.Tirmidzi)

Dalam Al Qur’an pun terdapat keistimewaan bagi orang-orang yang senantiasa menjaga hatinya dari kegelapan maksiat maka Allah memberi baginya cahaya.,

Artinya : Hai orang-orang yang beriman (kepada Para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(al hadid : 78)

Dengan cahaya tersebut para mukmin yang da’I dapat mengarungi lautan peradaban ini dengan semangat dan tatapan optimis sampai ketika Allah SWT memutuskan perkaranya. Wallahu A’lam Bish Shawab



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar